KARENA DOSA

12 10 2018

Ada orang bilang, jangan kaitkan bencana dengan dosa. “Dosa tidak bisa dijadikan alat ukur terjadi bencana sebab ada orang atau komunitas lain yang lebih banyak dosanya, justru tidak mendapatkannya.”
“Jadi, adanya gempa bumi atau tsunami, itu adalah bencana dari peristiwa alam.”
“Bencana gempa bumi harus dilihat ilmu geologi. Mereka melihatnya dari sisi lempengan bumi menggerak. Di atas magma di dalam perut bumi. Ada yang ahli di bidang itu,”

Saudaraku, kalau yang mengucapkan kata-kata di atas adalah seorang ateis anti tuhan, akan kami katakan:
Maklumlah, tapi ketika yang mengatakannya adalah seorang muslim, apalagi kiyai, maka ucapannya membuat kita terheran-heran.

Sebagai orang beragama, terutama Islam, kita mengimani bahwa Allahlah Rabb sekalian alam, artinya, Dialah yang menciptakan alam, memilikinya dan mengaturnya.

Aktivitas langit, bumi dan segala sesuatu di alam ini adalah dengan pengaturan Allah, matahari terbit dari timur tenggelam di barat, semua dengan perintah Allah, oleh karenanya, kelak saat Allah perintahkan agar matahari terbit dari barat, iapun taat.

Api membakar, dengan perintah Allah, oleh karenanya, saat Allah perintahkan agar api tidak membakar, iapun taat sehingga tidak membakar Nabi Ibrahim.
Angin datang, angin pergi, menjadi manfaat atau bencana, semua dengan perintah Allah, sehingga ketika Allah perintahkan angin untuk menghancurkan kaum Aad, maka ia taat.

تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَىٰ إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ  كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ

“(Angin) yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” *(Surat Al-Ahqaf, Ayat 25)* Baca entri selengkapnya »

Iklan




Kebutuhan Korban Gempa Lombok dan Suteng

7 10 2018





YAKIN, TIDAK MENANGIS?

7 10 2018

YAKIN, TIDAK MENANGIS?

Matahari telah ke tempat peraduannya. Pertanda waktu malam telah mendapatkan gilirannya. Kumandang azan sedari tadi bersahutan, tapi tidak seramai dulu. Tidak semeriah sebelum gempa. Wajar saja, sebab listrik belum hidup di semua penjuru Palu. Orang-orang pun masih tertahan di tenda pengungsian.

Bernasib Sama

Malam ini adalah malam kedelapan sejak gempa mengguncang Kota kami, kota yang kami banggakan dan kami cintai. Seusai shalat Maghrib, saya menyempatkan berjalan di lorong-lorong kota. Saya sendiri termasuk korban gempa. Tapi, saya termasuk orang yang beruntung, masih diberi kesempatan hidup oleh Allah.

Menyusuri Jalan Wahid Hasyim adalah kebiasaan saya. Sebab, saya tinggal di salah satu sisi jalan yang tidak seindah dulu. Di sepanjang jalan tersebut, warga mendirikan tenda darurat untuk berteduh. Di dalam tenda apa adanya itu, mereka mencoba bertahan hidup.

Sebenarnya, lokasi ini bukanlah lokasi pengungsian. Sentra pengungsi ada di tempat lain. Akan tetapi, sebagian warga lebih memilih untuk bertahan di tanah sekitar rumahnya.

Kesempatan tersebut saya manfaatkan untuk singgah di tenda salah satu warga. Obrolan hangat sesama korban gempa terjalin antara saya dengan penghuni salah satu tenda. Di saat-saat seperti ini, orang yang tidak saling kenal menjadi akrab seperti saudara. Karena mengalami nasib yang sama. Persis dengan kami berdua di malam itu, malam kedelapan sejak malam mencekam minggu lalu.

Belum mendapatkan bantuan

Mata ingin menangis mendengar kisahnya. Hati terasa sedih menyimak tuturnya. Dada seakan remuk ketika mengikuti alur bahasa lisan dan tubuhnya. “Sejak awal gempa hingga hari ini, kami belum mendapatkan bantuan.” Betapa menyedihkan nasib si bapak ini. Yang semakin membuat saya sedih, kondisi ini bukan dialami oleh dirinya saja. Tutur dan kisahnya tadi mewakili segenap pengungsi di sekitar tendanya.

Ya Allah, padahal mereka berada di Jalan Wahid Hasyim, kompleks yang terbilang mudah dijangkau. Bagaimana dengan nasib saudara-saudara kami di ujung sana, di tempat yang jauh dan terisolir. Ya Allah, berilah kesabaran untuk mereka dan berilah jalan keluar terbaik, Ya Allah.

Yang lebih mencengangkan, bapak tersebut berkata, “Lebih baik menjarah daripada mati kelaparan!” Allahu Akbar, jangan bapak! Teriakku dalam hati. Jangan sampai musibah duniawi menyeret kita hingga terjatuh dalam musibah akhlak dan perilaku.

Namun saya yakin, ucapan bapak tadi hanya sebatas kekesalan sesaat saja. Saya sendiri kurang percaya dengan tidak sampainya bantuan ke tenda ini. “Betulkah Bapak?”

Untuk membuktikan, saya diajak berkeliling ke tenda-tenda tetangga, sekaligus dipertemukan dengan Pak RW. Obrolan serius dengan Pak RW dimulai. Pak Nanang, Pak RW, lantas mendata nama-nama keluarga yang belum mendapatkan bantuan. Ada sekitar 17 KK yang masih terlantar hingga hari kedelapan.

“Kenapa tidak gabung sama warga lain di pengungsian to?” Tanya saya. “Kami khawatir rumah kami dimaling orang.”

Berikutnya, saya juga diajak melihat dapur umum kelompok pengungsi ini. Mereka saling bantu-membantu memenuhi kebutuhan logistik mereka. “Ini dapur umum, kami saling baku bantu di sini!”

Berbagi sebelum Pergi

Merasa sudah cukup, saya mohon diri sambil memberikan beberapa paket bantuan yang sebenarnya mau didistribusikan untuk pengungsi di tempat lain. Tetapi mendengar cerita tadi, hati tidak tega membiarkan mereka. Beras, air mineral, mie instan dan telor diterima dengan senang hati.

Agar tetap terkoordinasi, kejadian ini saya sampaikan kepada koordinator lapangan Tim Peduli Bencana, Pak Jamal. Diketahui, nama bapak yang menemui saya pertama kali adalah Pak Anto. Semoga kami diberi kemudahan mendistribusikan bantuan sesuai dengan sasaran.

🌏 Ikuti update informasi dan programnya melalui:

✅ Channel Telegram:
https://t.me/pedulibencana

✅ Official Website:
https://pedulibencana.com

✅ Twitter:
@lombok_peduli
@PeduliSulteng

✅ Contact Person:
▪+62 878-6426-2106 (Wil. Lombok)
▪+62 857-5736-6967 (Wil. Palu)
▪+62 812-2733-7626 (Wil. Palu)
▪+62 852-5973-8752 (Umum)





TENTANG BALAROA

7 10 2018

🌏 *Kelurahan Balaroa Amblas ke Bumi*

Dampak gempa bumi. Sekaligus tsunami di Palu. Sangat mengerikan. Begitulah jika Allah berkehendak. Mengingatkan manusia. Agar segera bertaubat dan memperbaiki amalan.

Kelurahan Balaroa berjarak 500 meter dari pasar Inpres. Saat gempa mengguncang. Permukaan tanah di daerah ini amblas. Tenggelam.

Seolah bumi menelannya. Hingga sedalam 3-5 meter.

🚑 *Zona Merah*

Daerah tersebut sudah dinyatakan sebagai zona merah. Daerah yg sudah tidak layak huni.

Warga yang masih bertahan. Diminta meninggalkan kawasan tersebut.

Tim Investigasi coba membuka akses ke sana. Sulitnya minta ampun. Jalan aspal menuju ke sana rusak parah.

Kini, Kelurahan Balaroa sudah menjadi kampung tanpa kehidupan. Warga pergi mengungsi. Atap-atap rumah membisu. Sementara badan bangunan tertanam ke bumi. Masyaallah… (bersambung)

📚 *TENTANG BALAROA (2)* Baca entri selengkapnya »





UPDATE DONASI PEDULI BENCANA LOMBOK DAN SULTENG

7 10 2018

📝 UPDATE DONASI PEDULI BENCANA LOMBOK DAN SULTENG

📬 Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kepada Allah Ta’ala kemudian ucapan terima kasih kepada seluruh donatur yang telah berpartisipasi.

📆 Sejak dibuka mulai 22 September 2018 hingga Kamis, 4 Oktober 2018 total donasi:

Rp. 2.012.604.126,00

✍ Dengan Rincian:
1⃣ Donasi untuk Lombok (22 – 30 Sept 2018)

Rp. 556.873.062,00

2⃣ Donasi Lombok dan Sulteng (1 – 4 Okt 2018)

Rp. 1.455.731.064,00

📚 Semoga Allah menerima amal saleh Anda semua dan menggantikannya dengan balasan yang lebih baik. Amiin.

✊ Kami terus mengajak segenap kaum Muslimin untuk bergandeng tangan dan berpartisipasi, karena kebutuhan pengungsi sangat besar, bersifat jangka panjang dan berkesinambungan.

🌏 Ikuti update informasi dan programnya melalui:

✅ Channel Telegram:
https://t.me/pedulibencana

✅ Official Website:
https://pedulibencana.com

✅ Twitter:
@lombok_peduli
@PeduliSulteng

✅ Email:
pedulibencana2018@gmail.com

✅ Contact Person:
▪+62 8786-426-2106 (Wil. Lombok)
▪+62 857-5736-6967 (Wil. Palu)
▪+62 812-2733-7626 (Wil. Palu)
▪+62 852-5973-8752 (Umum)

#pedulilombok
#pedulisulteng





PERMOHONAN MAAF

7 10 2018

🏡 PERMOHONAN MAAF

📚 Dengan ini, kami mewakili seluruh Tim Peduli Bencana menyampaikan kepada:

1⃣ Segenap donatur.
2⃣ Masyarakat umum

📬 Bahwa Kami memohon maaf sebesar-besarnya bila ada keterlambatan kami dalam:

✅ Merespon
✅ Membalas WA/SMS/Telpon
✅ Membalas email
✅ Konfirmasi Transfer
✅ Dll

💦 Tidak lain karena hal tersebut murni kekurangan kami. Perlu diketahui dalam rentang 2 minggu sejak dibuka donasi Peduli Bencana, Tim sudah menerima 3.020 transfer dan masing-masing harus dikonfirmasi.

✊ Semoga kondisi ini tidak mengurangi semangat seluruh donatur/muhsinin dalam berpartisipasi bersama kami.

🍄 Kami ucapkan banyak terima kasih & jazaakumullahu khairan kepada segenap donatur/muhsinin. Semoga Allah menerima amal shaleh ini.

✍ Hormat Kami,
Tim Peduli Bencana

🌏 Ikuti update informasi dan programnya melalui:

✅ Channel Telegram:
https://t.me/pedulibencana

✅ Official Website:
https://pedulibencana.com

✅ Twitter:
@lombok_peduli
@PeduliSulteng

✅ Email:
pedulibencana2018@gmail.com

✅ Contact Person:
▪+62 878-6426-2106 (Wil. Lombok)
▪+62 857-5736-6967 (Wil. Palu)
▪+62 812-2733-7626 (Wil. Palu)
▪+62 852-5973-8752 (Umum)

#pedulilombok
#pedulisulteng





Penyaluran Bantuan Sulteng

5 10 2018
  1. Penyaluran Bantuan Sulteng

Alhamdulillah, bantuan-bantuan untuk korban gempa dan tsunami Sulteng kembali didatangkan. Barang-barang kebutuhan logistik menjadi prioritas. Kendari, Sigeri, Makassar, Mamuju, Poso dan kota-kota di luar Palu menjadi tempat pemenuhan kebutuhan untuk korban terdampak bencana.

Pagi ini, Jumat (5/10), beberapa kafilah berangkat menuju Palu. Mereka berasal dari kota-kota tersebut. Dengan pengawalan ketat, karena alasan keamanan, dropping bantuan dilakukan dengan truk, minibus dan mobil pribadi…… (baca lebih lanjut)

https://pedulibencana.com/penyaluran-bantuan-sulteng/