Aku dan sebuah realita dari wanita yang dihalangi untuk menikah

20 09 2010

Oleh : Abu Ibrahim Abdullah

Terlalu banyak realita yang telah ku lihat, berita yang  telah ku dengar, sebuah kesedihan yang mendalam, sebuah kesengsaraan dalam hidup yang justru dilakukan oleh orang-orang yang mencintainnya. Dilatarbelakangi karena  jauhnya dari ilmu syar’i, dibungkus dengan hawa nafsu dan dipoles dengan pola pikir yang keliru akhirnya berujung pada menyengsarakan orang-orang yang dicintainya bahkan buah hatinya sendiri tanpa disadari. Sepenggal cerita dibawah ini, semoga mewakili dari sekian banyak orang yang mengalaminya.

 

Sebuah kisah tentang seorang anak perempuan yang melaknat ayah kandungnya sendiri, dikarenakan ayahnya melarangnya untuk menikah, memiliki keturunan yang baik – baik dan menjaga kemaluannya dengan menikah. Berbagai alasan dikemukakan sang ayah, mulai dari alasan fisik sang laki-laki yang ingin menikahi, alasan status sosial dan alasan lainnya. Sampai akhirnya anak perempuannya tersebut semakin tua dan tidak menikah.

Menjelang ajalnya, sang ayah meminta anak perempuannya untuk memaafkannya, namun sang  anak mengatakan “Aku tidak mau memaafkan ayah yang telah membuatku menderita dan menyesal. Ayah yang telah menghalangiku dari hakku dalam hidup ini. Untuk apa aku menggantungkan segudang ijazah dan sertifikat di dinding rumah yang tidak akan pernah dilalui seorang bocah pun? Untuk apa ijazah dan gelar menemani tidurku dipembaringan, sementara aku tidak menyusui seorang bayipun dan tidak mendekapnya dipelukkanku. Aku tidak bisa berbagi cerita kepada laki-laki yang aku cintai dan sayangi, yang mencintai dan menyayangiku dan cintanya tidak seperti cinta ayah. Pergilah dan sampai bertemu pada hari kiamat nanti. Dihadapan Dzat Yang Maha Adil dan tidak pernah mendzalimi. Dzat yang memutus segala perkara. Dan Dzat yang tidak merampas hak seorangpun! Aku tidak akan pernah rela kepada ayah hingga tiba masa pertemuaan dihadapan Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.”

Atau Sebuah akhir yang memilukan.

Seorang anak perempuan yang dihalangi ayahnya untuk menikah karena ayahnya menolak ta’addud (poligami), setiap kali datang kepadanya laki-laki yang ingin meminang putrinya, ia menolaknya, sampai putrinya berumur 40 tahun. Kemudian, putrinya ditimpa penyakit kejiwaan akibat sikapnya itu dan penyakitnya kian bertambah parah sehingga dirawat dirumah sakit. Ketika menjelang wafat, ayahnya mengunjunginya. Dia berkata kepada ayahnya, “ Mendekatlah kepadaku, mendekatlah,” ia berkata lagi, “kemarilah lebih mendekat.” Ayahnya mendekat. Kemudian, ia berkata kepada ayahnya, “katakan amin”, ayahnya berkata “amin”, Kemudian untuk kedua kalinya ia berkata, “katakan amin”, ayahnya berkata “amin”, Lalu ia berkata kepada ayahnya, “semoga Allah menghalangimu dari surga sebagaimana kamu telah menghalangiku dari menikah dan mendapatkan anak.” Setalah itu ia wafat

Tak bisa ku bayangkan kesedihan dan penderitaan mereka, yang membuat hati ini pilu jika  mendengar, melihat kisah dan kehidupan mereka.

Tak tahu apa yang harus ku ketik pada kertas ini kecuali sebuah ayat yang semoga meyadarkan kita semua terutama para wali dari para wanita yang berada dibawah kewaliannya.

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالمَعْرُوفِ ذَلِكَ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكُمْ أَزْكَى لَكُمْ وَأَطْهَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“ Apabila kamu mentalak (mencerai) isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka menikah lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan diantara mereka dengan cara yang ma’ruf. Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang yang beriman diantara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al Baqarah : 232)

Sebuah ayat yang menjelaskan kepada kita semua, tentang tidak bolehnya seorang wali menghalang – halangi untuk menikahkan orang yang berada dibawah kewaliannya, jika mereka telah saling ridho tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat islam. Dari mulai alasan calon suaminya belum mapan, atau alasan agar putrinya menyelesaikan studinya dulu atau meniti karirnya dulu, atau karena alasan adat dan uang atau karena alasan mahar sampai pada alasan tidak mau putrinya dipoligami.

Berkata Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di Rahimahullah : “ Pembicaraan ayat ini kepada para waIi dari perempuan yang dicerai dengan perceraian yang bukan perceraian yang ketiga apabila telah habis masa iddah. Dan mantan suaminya menginginkan untuk menikahinya kembali dan perempuannya ridho dengan hal itu. Maka tidak boleh walinya melarang untuk menikahkannya karena marah atas laki-laki tersebut, atau tidak suka dengan perbuatannya karena perceraian yang pertama” (Taisirul Karimir Rahman, pada ayat ini)

 

Berkata Ibnu Katsier Rahimahullah:  ( ذَلِكَ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ : Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang yang beriman diantara kamu kepada Allah dan hari kemudian ) Maksudnya inilah yang Kami (Allah) larang, yaitu tindakan para wali yang menghalangi pernikahan wanita dengan calon suaminya, jika masing-masing dari keduanya sudah saling meridhai dengan cara yang ma’ruf, hendaknya ditaati, diperhatikan dan diikuti” (Tafsir Ibnu Katsier pada ayat ini)

 

Ku hanya ingin mengatakan kepada para wali bertakwalah kepada Allah, takutlah kalian kepada Allah atas perbuatan kalian dari menghalangi untuk menikahkan wanita – wanita yang berada dibawah kewalian kalian tanpa alasan yang dibenarkan dalam agama ini. Karena hal itu adalah sebuah tindakan kedzaliman atas mereka.

Apakah kalian rela mempertaruhkan kebahagian putri-putri kalian hanya  karena uang,  studi disekolah – sekolah ikhtilat, karir,  adat atau perkara lainnya sehingga menghalangi putri-putri kalian menikah dengan laki-laki sholeh pilihannya.


Aksi

Information

38 responses

21 09 2010
Abu Amira Khairunnisa

Jazakallaahu khair ya ustadz

21 09 2010
nikahmudayuk

waiyyak. semoga bermanfaat

23 09 2010
24 09 2010
mhd.asriandyka

jasakallahu khair,na’am ustad..
ilmu ini sangat bermanfaat sekali bagi ana,,,

30 09 2010
habibah syafiq

Bismillaah..ana ijin copas artikelnya.Jazaakallohu khoiron katsiro wa baarokallohu fiik

6 10 2010
nikahmudayuk

Tafadhol, semoga bermanfaat. waiyyak wa anta barakallahu fikum

6 10 2010
mhd asriandyka

bismiilah,ustad mohon cantum kan blok,yg berisi tentang hukum tasawuf,barokallahufikum

8 10 2010
nikahmudayuk

insya Allah, atau coba antm cek di kaahil.wordpress.com. fikum barakallah

19 10 2010
trianova

Ustadz Jok, ada kisah lain yang mirip di syarhul mumti… sama sedihnya..

22 10 2010
nikahmudayuk

jazakallahu khoir faedahnya ustadz jaka

21 10 2010
Azmi

Bismillah
Assalamu’alaykum ustadz,
afwan ana mau tanya,
Bagaimana dengan laki2 yg dihalangi menikah dengan wanita shalihah pilihannya? tentunya disebabkan oleh hal2 di luar syar’i.

22 10 2010
nikahmudayuk

wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. kenapa pada ayat disebutkan wanita karena seorang wanita tidak bisa menikahkan dirinya sendiri baik perawan ataupun janda. maka dari itu tidak boleh walinya menghalangi si wanita yang berada dibawah kewaliaannya untuk menikah dengan laki-laki sholeh pilihannya. adapun pria bisa menikah walaupun ortunya dll tidak setuju. dan tidak boleh seorang ortu atau pihak keluarga lainnya untuk menghalangi dari anggota keluarganya untuk menikiah tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Nasihat ana lakukan pendekatan yang baik dari hati kehati tentang keinginan antum kpd keluarga disamping banyak doa. wallahu a’lam

6 11 2010
dbc0d3

Jazakallahu khoir,
Ijin Copy Paste.

8 11 2010
nikahmudayuk

wa anta jazakumukullahu khoir. tafdhol

17 12 2010
25 12 2010
31 12 2010
Okta

Lalu bgaimna dgn “Restu orangtua adalah restu ALLAH”?

Sukron…

12 01 2011
nikahmudayuk

Wajib bagi kita untuk berbakti kepada orang tua, adapun artikel ini adalah sebuah artikel yang mengangkat tema realita dari wanita yang dihalangi untuk menikah, bukan untuk mencontoh perbuatan sebagian kisah yang ada diartikel ini. barakallahu fikum. maka pendekatan dari hati ke hati kepada ortu, beradab kepada mereka, merupakan solusi insya Allah ketika orang tua tidak setuju ketika dia mau menikah tanpa alsan syar’i disamping banyak berdoa kepada Allah diberikan yang terbaik dan dimudahkan urusan nya.

6 02 2011
Basit

Subhanallah,smga kndungannya bmanfaat bgi umat

7 02 2011
nikahmudayuk

amin

10 02 2011
Ukhty

Bismillah.
Bagaimana jika ada akhwat yg menunda nkh dg alasan msh ingin belajar ilmu syar’i sbg bekal menuju rumah tangga,dan beranggapan bahwa ketika sudah menikah,akan sulit untuk bisa belajar krn sudah dsibukkan dg urusan rumah tangga:mengurus suami,anak dll.dan hal tsb bnyk ia dapatkan dr pengalaman ummahat yg mengeluh sulitny belajar ketika sdh berumahtangga.
Jazakumullah khairon.

16 02 2011
nikahmudayuk

afwan jawabnya nanti

19 03 2011
nikahmudayuk

afwan baru sempat balas, barakallahu fikum. pertanyaan ini banyak ditanyakan oleh sebagian orang. Maka perlu diketahui tidaklah dijadikan alasan seseorang menunda menikah dikarenakan ingin belajar terlebih dahulu karena tidak ada pertentangan antara belajar dan menikah.
Inilah jawaban yang ana dengar dan baca dari para ulama. suami yang shalih akan membantu seorang istrinya menuntut ilmu. Sangat banyak ayat maupun hadist yang mengnjurkan kita untuk menikah. diantarnya

Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (QS. Ar-Rum: 21)

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mu`jizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu)”. (QS. Ar-Ra’d: 38)

Allah Ta’ala berfirman:

فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ
“Dan nikahilah wanita-wanita yang kalian senangi, dua atau tiga atau empat wanita.” (QS. An-Nisa`: 3)

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah memiliki kemampuan maka hendaknya dia menikah, karena hal tersebut lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena puasa adalah benteng baginya”. (HR. Al-Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400)

dan dari amalan Nabi kita kita bisa mengetahui apa yang beliau anjurkan bagi putri2nya. Rasulullah menikahkan Ruqqayah, Zainab disaat masih berumur belia dan mereka adalah wanita2 yang paling semangat menuntut ilmu, begitu juga Abu Bakar menikahkah ‘Aisyah diumur yang yang sangat muda… apakah dengan sebab itu aisyah lalu tidak bisa belajar..??bahkan aisyah menjadi wanita yang paling faqih dalam masalah agama, Hafsah pun menikah diusia 18 tahun dng Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam setelah menjdi janda apakah umar tidak tahu mana yang terbaik untuk anaknya sehingga dinikahkan pada usia muda??!! bukankah hafsah wanita yang semangat menutut ilmu dll.]

Klau ada yang berkata realita yang mengatakan demikian (Yaitu banyak ummahat yang terhalangi dari menuntut ilmu atau terganggu) :
maka kita jawab, realita yang lainpun menyatakan hal yang lain…. yaitu para akhwat yang duduk dimajelis ulama di yaman hampir 100% kalau tidak mau dikatakan 100% semuanya setatusnya adalah WANITA YANG PUNYA SUAMI…!!! yang mereka belajar ke yaman berangkat dengan suami2 mereka. lalu dimana yah wanita yang statusnya blum punya suami di majelis – majelis para ulama disaudi atau diyaman….
sekaligus jawaban ana ini sebagai penjelasan kekeliruan seseorang yang berkata :
” kalau ada orang yang menawarkan untuk menikah sama ikhwan atau akhwat yang semangat belajar saya adalah orang yang pertama kali yang menghalanginya”..????

lihat ukhty tidak ada pertentangan antara belajar dan menikah dengan laki2 shaleh, justru akan membantu anti dlm menuntut ilmu tinggal sama2 komitmen dan saling ta’awun.

kalau alasannya sibuk nanti jika jadi ibu rumah tangga ngurus anak, suami dll.
maka jawabannya ;
setiap orang punya kesibukkan, yang belum menikahpun punya kesibukkan, contoh berapa banyak wanita yang belum menikah tidak bisa ikut kajian di tempat yang mengharuskan safar karena tdk ada mahram yang mengantar,,,Lihat bagaimana wanita tanpa suami kehilangan kesempatan belajar…!! wanita yang punya suami enak ada yang ngatar ketika tempat ta’limnya jauh….
yang mengahuruskan safar…

semoga jawaban ini bermanfaat bagi kita semua.

11 02 2011
Rahmat wahid

Assalamualaikum ustad saya mau tanya saya menyukai wanita ini contoh’a truz org tua kmi tu gk setuju mengapa ustad trima kasih,,

16 02 2011
nikahmudayuk

wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, afwan ana tidak paham pertanyaan antum!, banyak faktor jika orang tua tidak setuju. ada yang sesuai dengan alasan yang dibenarkan oleh syariat islam dan ada juga yang tidak sesuai, tinggal antm lihat keadaan ortu antum, tapi ingat jangan mudah untuk menyimpulkan, berbaik sangkalah sama ortu antm, dan kewajiban kita berbakti sama ortu.

5 03 2011
hengky

Assalam muallaikum,,ustad q mAu tanya,,q pnya calon istri dia sangat. Sayang ma q,,tp ayah. Ibunya n saudAranya g stuju trus calon q nurut ma meReka tp. Terpaksa,,jd gmn mnurut ustad,boleh. G q ajak Dia nikah tanpa restu. Kdua orang tuA gadis itu,,

8 03 2011
nikahmudayuk

wa’alaikumusslam warahmatullahi wabarakatuh, dilihat alasan kenapa orang tuanya melarangnya, jika orang tua melarangnya karena alasan yang dibenarkan oleh syariat islam maka ini adalah bentuk dari tanggung jawab orang tua kepada anaknya beginilah seharusnya sikap orang tua, misalnya melarang anaknya menikah dengan sesorang yang tidak menegrjakan shalat atau tidak puasa dibulan ramadhan dll. Adpun jika larangannya bukan karena perkara yang dibenarkan oleh syriat islam padahal calonnya seorang yang shalih maka jika seperti ini lakukan pendekatan yang baik dengan orang tuanya disamping banyak doa kepada Allah.

Lakukan cara2 yang dibenarkan oleh syariat ketika kita ingin mencari pendamping hidup adalah bentuk ketaatan kepada Allah dan langkah menuju kebahgian dunia dan akhirat.

8 03 2011
Muha

Assalamualaikum Ustad..saya mau tanya, saat ini saya mempunyai pacar shalehah yg rencana ingin saya nikahi, agar dapat segera mengurangi lembah zina dan dosa,
saya berniat ingin menjadikan dy seorang istri..namun ada beberapa faktor yang menjadi penghambat dr orang tua saya..

1. Pendidikan sy d3 sdangkan dy s1, jd tidak sebanding..
2. Umur saya laki2 24 sdangkan dy prempuan 25
3. Saat ini saya harus menyelesaikan s1 dlu baru stlh itu s2 dan punya rumah baru disetujui
4. Karena saya br menjadi pegawai d sebuah instansi, jd blum puny cukup uang untuk membeli rumah
Padahal saya mapan u/ hidup berdua atw bahkan mempunyai anak nant berkecukupan, sampai masa pensiun..InsyaAllah

Yang menjadi pertanyaan saya, dosakah saya jika saya meyakinkan calon istri saya yg lbh tua u/ menunggu saya hingga umurny bertambah?? Padahal kami belum tentu berjodoh??
kemauan saya dan calon istri saya agar segera seiring sejalan menikah, saya kerja sambil kuliah…tapi orang tua saya sangat keras..ap yg harus saya lakukan Bapak Ustad?? Sementara orang tua calon istri saya ingin disegerakan??

Terima Kasih

19 03 2011
nikahmudayuk

wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, sebelumnya saya minta maaf karena baru sempat balas karena sudah lama tidak mebuka blog ini.
Mas isfandi yang semoga Allah memudahkan urusan mas.
didalam syariat kita telah dijelaskan bagaimana jika kita ingin menikah langkah apa yang harus kita tempuh, yaitu dengan cara ta’aruf (perkenalan yang syar’i) yaitu misalnya dengan mengenal biodata akhwat yang ingin kita nikahi dari orang yang kita percaya, atau tentang jati dirinya dari keluarganya, saudara laki2ngy dan yang lainnya tanpa ada ikhtilat, berduan dll dari perkara yang menyelisihi syar’i seprti pacaran.

kalau mislanya orang tua mas irfan melarang karena perkara2 diatas maka coba mas irfan bicara dari hati kehati dengan ortu mas irfan alasan mas ingin menyegerakan menikah. misalnya khwatir kalau tidak menikah terjatuh dalam perkara maksiat atau yakinkan ortu mas irfan bahwa maslah rezeki itu ditangan insya Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan orang yang ingin menjaga kehormatannya dengan segera menikah disamping itu menikah adalah sarana kearah situ. dan yakinkan bahwa mas irfan akan bersusaha dengan baik mencari rezeki yang halal untuk kelurganya kelak.
adapun keinginan ortu calon mas irfan untuk menyegerakan pernikahan putrinya dengan seorang yang shaleh yang ia senangi adalah perkara yang baik dan itulah yang seharusnya dilakukan setiap ortu dan wali terhadap orang yang dibawh kewaliannya untuk menyegerakan menikahkan putrinya dgn laki2 shaleh yang ia senangi.
Adapun tentang disuruh menunggu saya khwatir akan menyebabkan mas irfan dan calon mas irfan terjatuh kepada hal2 yang menyelisihi syar’i, disamping itu kasian akhwatnya kalau ternyata tidak jadi sedangkan umurnya semakin bertambah tua yang secara sebab denagn umur yang semakin tua sehingga memasuki usia sulit menikah menjadi lebih sulit untuk menikah karena secara umum banyak dari pemuda memilih calon yang berusia muda. wallahu ‘alam, jangan lupa banyak berdoa semoga Allah memberikan yang terbaik untuk mas irfan dan dimudahkan urusannya. dan berbicara dari hati kehati tidak mengahalngi seseorang tetap berbakti kepada orang tua.

11 03 2011
Abdullah Munawir

Jazakumullah Khair Ustads…mohon ijin share

17 03 2011
nikahmudayuk

wanta jazakumullahu khoir, tafdhol

13 03 2011
Indah zulfinita

Assalamu’alaikum ustadz
Saya mau tanya pendekatan seperti apa yg harus dilakukan oleh anak perempuan thdp orgtuanya yg melarang menikah dgn sorg yg sholeh dan dsukai oleh anak perempuan tsb, sedang orgtua lbh memilih akan menjdohkan anak perempuannya dgn sorg yg lbh mapan dan mpyai latar belakang pendidikan yg lumayan sdang anak perempuan tsb tdk menyukainya
Dan orgtua mengaggap kalau anak harus menuruti kmauan orgtua, syukron jazakillah atas jwbnnya..

18 03 2011
nikahmudayuk

wa’alaikumussalam warahmtullahi wabarakatuh, pendekatan yang baik terhadap ortu sesuai dengan alasan masing2 ortu ketika melarang (dengan larangan yang tdk sesuai syar’i tentunya). coba saudari utarakan dengan bahasa yang baik dan sopan alasan dan keutamaan jika mempunyai menantu yang shaleh walaupun mungkin dari sisi pendidikan dan kemapanan belum mapan dengan ditambah contoh2 yang ada disekitar kita atau contoh yang sesuai dengan kondisi anti kisahnya said bin musayyab yang menikahkan putrinya dengan seorang penuntut ilmu yang hanya punya uang 2 atau 3 dinar atau yang semisalnya, lalu bahaya kalau punya menantu yang tidak shaleh yang bahaya akan menimpa putri ibu bahkan kembalinya juga kepada orang tua putri tersebut disamping juga bagaimana perasaan wanita yang menikah dengan seorng yang tidak disukainya, dan berikan contoh tetang hal itu. dan dengan tetap berbakti dan berbaiksangka kepada ortu, bahwasannya otru saudari berbuat seperti itu karena berfikir untuk kebaikkan anaknya walaupun terkandang tidakkannya malah bertolak belakang karena ketidak tahuan mereka atau linkungan yang mneyebakan mereka demikian dan jangan lupa bnyak doa. wallahu ‘alam

22 03 2011
Apriyani

Assalamualaikum wr.wb.
Pada dasarnya orang tua ingin yang terbaik untuk anak nya, mereka mengingkan anaknya mendapatkan pasangan yang sesuai baik dari segi status, pendidikan, asal-usul, latar belakang, pekerjaan dll. tapi kadangkala anaknya menjumpai atw mendapatkan pasangan yg tidak memenuhi kriteria tersebut tp pasangan nya itu memiliki ketulusan, kasih sayang, tanggung jawab. hal ni lah yag menjadi dilema dari para anak2 terutama wanita,apakah mereka harus mengikuti kehendak orang tuanya atw memilih seuai dengan pilihan hatinya atw berpasrah kepada yang diatas.

22 03 2011
nikahmudayuk

wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Benar inilah yang harus dipahami oleh setiap anak. Orang tua menginginkan kebaikkan untuk anak2nya, walaupun karena sebagian dari mereka jauh dari ilmu agama tanpa disadari malah berbuat hal menyengsarakan anaknya. Dari kesadaran diatas seorang anak seharusnya lebih mengedepankan khusnudzan (baik sangka) kepada orang tuanya dengan sebab ini akan membantu dia untuk bersikap baik dan mencari solusi syar’i atas maslahnya. Yang jelas anak mempunyai kewajiban berbakti kepada orang tua.

24 08 2013
Rahmah fauziyyah

a

16 10 2013
Aku dan Sebuah Realita dari Wanita yang Dihalangi untuk Menikah

[…] Sumber : nikahmudayuk.wordpress.com […]

18 04 2016
Aku dan Sebuah Realita dari Wanita yang Dihalangi untuk Menikah – AppSalafy

[…] Sumber : nikahmudayuk.wordpress.com […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s