Bingung antara menerima mantu yang sudah mapan atau penuntut ilmu tapi belum mempunyai pekerjaan..?

5 01 2013

Sign dollar and the books on scales. 3D image.Pertanyaan

‘afwan ustadz ana seorang ummuhat bingung apa boleh menerima mantu ikhwan ta’liman dan sudah mapan kerjaanya atau ikhwan berilmu dan sedang menuntut ilmu tapi belum mempunyai pekerjaan.sedang ana ingin ikhwan yang bisa mengajak belajar anak ana ke yaman atau madinah.jazaakumullah khairan ustadz

Jawabannya

Dalam agama kita sangat jelas bagaimana seseorang orang tua/wali memilihkan calon untuk putrinya. Dimana Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika datang kepada kalian seorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan anak kalian). Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh syaikh Al-Albani)

‘Abdullah bin Umar menceritakan, ketika Hafshah menjadi janda karena kematian suaminya, (Khunais bin Hudzaafah As-Sahmi radhiyallahu ‘anhu, termasuk shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang  meninggal di Madinah) berkata Umar bin Khaththab : “Aku mendatangi Utsman bin Affan dan aku menawarkan Hafshah kepadanya, maka dia berkata, ‘Aku akan memikirkannya dulu.’ Aku pun menunggunya beberapa malam, kemudian Utsman menemuiku dan berkata, “Aku memutuskan untuk tidak menikah pada hari-hari ini.” Berkata Umar, “Aku menemui Abu Bakar As-Siddiq dan berkata kepadanya, ‘Jika kamu menginginkan aku akan menikahkan Hafshah binti Umar denganmu.’ Namun Abu Bakar hanya diam, sungguh aku lebih marah kepadanya daripada dengan Utsman. Aku pun menunggu beberapa hari kemudian Rasulullah melamar Hafshah maka aku menikahkan putriku kepadanya (Rasulullah)…..” (HR. Bukhari)

Hasan Al Basri pernah ditanya “ Pria manakah yang engkau suruh untuk aku menikahkannya dengan putriku ? ” Hasan Al Basri Rahimahullah menjawab : “ Nikahkanlah ia dengan pria yang beriman karena bila ia mencintainya maka ia akan memuliakannya. Dan bila ia tidak mencintainnya maka dia tidak akan mendzaliminya.“

Patokkan seorang orang tua dalam mencarikan calon suami untuk putriya adalah seorang yang baik agama dan akhlaknya. Maka dilihat orang yang datang melamar putri anda apakah dia termasuk baik agama dan akhlaknya atau bagaimana. Kalau yang datang ikhwan, atau yang datang seorang penuntut ilmu atau yang datang seorang ustadz atau yang datang statusnya masih bujang atau yang datang statusnya sudah beristri maka patokkannya apakah yang datang tersebut baik agama dan akhlaknya atau bagaimana. Orang yang memiliki ilmu atau penuntut ilmu diantara sekian banyak hal yang dapat dijadikan point untuk menilai baiknya agama seorang yang datang melamar anak kita. Namun hal tersebut bukan berarti mengenyampingkan point yang lain dalam menilai baik tidaknya agama dan akhlak seseorang. Wallahu a’lam bis shawwab

di jawab oleh Abu Ibrahim Abdullah al-Jakarty


Aksi

Information

2 responses

5 01 2013
Abu Hanifah

Baiknya kalau punya calon mertua yg seperti itu

11 01 2013
catatanmms

Reblogged this on catatanmms and commented:
Bingung antara menerima mantu yang sudah mapan atau penuntut ilmu tapi belum mempunyai pekerjaan..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s