Penjelasan Ringkas Ibadah Qurban

7 10 2013

kurba-jpgAllah Subhaanahau wata’ala tidaklah menciptakan kita melainkan untuk beribadah kepada-Nya, diantara ibadah yang Allah perintahkan adalah ibadah qurban bahkan Ibadah Qurban adalah ibadah yang sangat agung. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika menjelaskan sebuah ayat :

   فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu, dan berkurbanlah.” (Al-Kautsar : 2)

“Allah memerintahkanya, menggabungkan antara  dua ibadah ini, yaitu shalat dan berkurban, yang menunjukkan atas kedekatan, tawadhu, kebutuhan, baik sangka, dan kuatnya keyakinan (seorang hamba) serta tenangnya hati kepada Allah dan beribadah kepada-Nya.” (Fathul Majiid Fi Syarhi Kitaab At-Tauhid : 126)

Pembahasan Pertama: Pengertian Udhiyah

Hewan yang disembelih dari unta, sapi atau kambing/domba dalam rangka beribadah kepada Allah pada hari iedul adha dan hari-hari tasyriq. (silahkan Ahkaamul Adhaahi, Ibnu Utsaimin, hlm 5 dan al-Fiqih al-Muyasar, hlm, 190)

Pembahasan Kedua: Dalil disyariatkannya menyembelih

Dalil dari al-Qur’an

Allah subhaanahu wata’ala berfirman

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

 “ Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkurbanlah.” (Al-Kautsar : 2)

Dalil dalam hadist dari Anas Bin Malik  Radhiyallahu anhu’ menuturkan:

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berqurban dengan dua ekor kambing yang amlah (kambing putih kehitaman) dan bertanduk. Beliau sembelih sendiri dengan tangannya. Beliau membaca Basmalah dan Bertakbir serta meletakkan kaki beliau diatas badan kedua (kambing) itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Pembahasan Ketiga: Hukum Ibadah Qurban

Tentang hal ini para ulama berselisih pendapat, sebagian ulama berpendapat menyembelih hewan qurban pada idul adha hukumnya wajib. Adapun jumhur (mayoritas) ulama bependapat hukumnya sunnah muakadah. Adapun kami cenderung dengan pendapatnya jumhur, berdasarkan dalil dimana Rasulullah bersabda:

إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ فَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلَا مِنْ بَشَرِهِ شَيْئًا

“Apabila telah masuk sepuluh (awal dzulhijah) dan salah seorang kalian berkeinginan untuk menyembelih hewan qurban, janganlah dia menyentuh  rambut dan kulitnya.” (HR. Muslim)

Namun sudah seyogyanya bagi yang mampu untuk tidak meninggalkan ibadah qurban ini.

Pembahasan Keempat: Waktu menyembelih hewan qurban

Awal dibolehkan menyembelih hewan qurban setelah selesai dilaksanakannya shalat ied walaupun khutbah belum dimulai. Menurut pendapat yang terpilih insya Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَإِنَّمَا ذَبَحَ لِنَفْسِهِ وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ

 “Siapa yang menyembelih sebelum shalat, maka sesembelihannya untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang menyembelih setelah pelaksanaan shalat (‘Ied) nusuknya (sesembelihannya) telah sempurna dan telah mencocoki sunnah kaum muslimin.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun hari terakhir di bolehkannya menyembelih hewan qurban adalah terakhir dari hari tasyrik pada tanggal 13 Dzulhijah ketika terbenamnya matahari.

Pembahasan kelima: Syarat-syarat Ibadah Qurban

Syarat-syarat nya adalah :

Pertama : Yang disembelih Bahiimatul An’aam (hewan ternak) adalah unta, sapi dan kambing atau domba. Tidak sah dan tidak boleh seseorang mengganti dengan selain itu. Allah Subhaanahu wata’aala berfirman:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأَنْعَامِ

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut Nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka…” (Al-Hajj:34)

Kedua : Hewan sesembelihan tersebut telah mencapai umur yang cukup secara syar’i. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنْ الضَّأْنِ

“Janganlah kalian menyembelih, kecuali musinnah. Kecuali apabila sulit bagi kalian  untuk mendapatkannya, maka silahkan kalian menyembelih jadza’ah berupa domba.” (HR. Muslim)

Insya Allah akan ada pembahasannya lebih lanjut

Ketiga : Hewan ternak harus terlepas dari cacat yang menghalangi kesahan dalam berqur’ban. Tentang hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَرْبَعٌ لَا يَجُزْنَ الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ظَلْعُهَا وَالْكَسِيرَةُ الَّتِي لَا تُنْقِي

Empat hal yang tidak diperbolehkan pada hewan qurban, hewan qurban yang sebelah matanya buta yang kebutaanya sangat tampak, hewan qurban yang sakit yang sakitnya sangat nampak, hewan qurban yang pincang dengan kepincangan yang sangat nampak. daan hewab qurban yang kurus yang tidak berlemak.” (HR. Abu Dawud no 2802, at-Tirmidzi no 1502 dan Ibnu Majah no 3144 dengan sanad yang shahih, dishahihkan oleh an-Nawawi).

Insya Allah akan ada pembahasannya lebih lanjut.

Keempat : Penyembelihan dilakukan pada waktu yang telah ditentukan oleh syariat,  bermula setelah pelaksanaan shalat I’d dan berakhir pada akhir hari-hari Tasyriq. Yaitu pada tanggal 13 Dzulhijjah bersamaan dengan terbenamnya matahari.

Kelima: Hewan sesembelihan hendaknya hewan milik penyembelih, dengan kepemilikan yang didapatkan secara syar’i  bukan hasil curian atau yang lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ، لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

“Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak akan menerima kecuali yang baik-baik.” (HR. Muslim)

Pembahasan Keenam: Tentang umur hewan sesembelihan yang boleh di jadikan hewan qurban

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنْ الضَّأْنِ

“Janganlah kalian menyembelih, kecuali musinnah. Kecuali apabila sulit bagi kalian  untuk mendapatkannya, maka silahkan kalian menyembelih jadza’ah berupa domba.” (HR. Muslim)

berikut ini kesimpulan yang telah dijelaskan oleh para ulama tentang umur hewan yang boleh untuk kurban:

Unta, yang telah berumur lima tahun dan mulai memasuki tahun keenam

Sapi, yang telah berumur dua tahun dan mulai memasuki tahun ketiga

Kambing yang bukan domba, yang telah berumur setahun dan mulai memasuki tahun kedua

Domba boleh jadza’ah, yang telah berumur enam bulan dan mulai memasuki bulan ketujuh.

 

Pembahasan Ketujuh: Tentang cacat yang tidak dibolehkannya hewan ternak dijadikan qurban

Tentang hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَرْبَعٌ لَا يَجُزْنَ الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ظَلْعُهَا وَالْكَسِيرَةُ الَّتِي لَا تُنْقِي

Empat hal yang tidak diperbolehkan pada hewan qurban, hewan qurban yang sebelah matanya buta yang kebutaanya sangat tampak, hewan qurban yang sakit yang sakitnya sangat nampak, hewan qurban yang pincang dengan kepincangan yang sangat nampak. dan hewan qurban yang kurus yang tidak berlemak.” (HR. Abu Dawud no 2802, at-Tirmidzi no 1502 dan Ibnu Majah no 3144 dengan sanad yang shahih, dishahihkan oleh an-Nawawi).

Dibawah ini penjelasannya

  1. Sesembelihan yang sebelah matanya buta dan kebutaannya sangat tampak.

Kebutaan yang sangat tampak seperti bola mata menonjol keluar, atau cekung kedalam.

  1. Sesembelihan sakit yang sakitnya sangat tampak.

Sakit yang sangat tampak pada hewan seperti tidak mau makan dikarenakan sakitnya atau yang semisalnya. Atau seperti penyakit yang sangat nampak, kudis, thaun dan semisalnya.

  1. Sesembelihan pincang yang pincangnya sangat tampak

Yaitu kepincangan yang menghambat hewan itu untuk berjalan bersamaan dengan hewan yang sehat, selalu tertinggal.

  1. Hewan kurus yang tidak berlemak atau bersumsum

Hewan yang  kurus dan tidak bersumsum tidak boleh dijadikan hewan kurban. Kalau hewan yang kurus, tetapi masih berlemak dan bersumsum, boleh. Namun tentu yang lebih utama hewan yang gemuk.

Pembahasan Kedelapan: Adab atau etika bagi orang yang hendak berqurban

Apabilah telah masuk bulan dzulhijah bagi orang yang hendak berqurban tidak boleh baginya memotong, mencukur dan mengambil rambut dan kuku hingga selesai menyembelih hewan qurban. Hal ini jika dilakukan secara sengaja. Adapun karena lupa maka maka tidak mengapa. Namun bagi yang melakukan secara sengaja tidak membuat tidak sah sesembelihannya namun di telah terjatuh terhadap sesuatu yang dilarang.

Rasulullah shallallahu ‘laihi wasallam bersabda:

إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ فَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلَا مِنْ بَشَرِهِ شَيْئًا

“Apabila telah masuk sepuluh (awal dzulhijah) dan salah seorang kalian berkeinginan untuk menyembelih hewan qurban, janganlah dia menyentuh  rambut dan kulitnya.” (HR. Muslim)

Pembahasan kesembilan: Disyariatkan untuk memakan sebagian daging hewan qurban.

Ketika seseorang menyembelih hewan qurban disunnahkan untuk memakan sebagian dagingnya. Allah Subhaanahu wata’aala berfirman:

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

“Maka makanlah sebagian (sesembelihan) itu oleh kalian dan (sebagian lagi) beri makanlah orang-orang yang sengsara dan fakir.” (al-Hajj:28)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فَكُلُوا وَادَّخِرُوا وَتَصَدَّقُوا

“Maka makanlah (sesembelihan itu) oleh kalian, berbekallah dan bersedekahlah.” (HR. Muslim)

Itulah pembahasan ringkas yang terkait dengan hewan qurban. Semoga bermafaat.

Sumber bacaan:

Kitab Al-Fiqh al-Muyasar

Dll.

Ditulis oleh Abdullah al-Jakarty

sumber: http://inginbelajarislam.wordpress.com/2013/10/07/penjelasan-ringkas-ibadah-qurban/

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s