Ini Selfieku, Mana Selfiemu

20 05 2016

selfie1Kebiasaan orang untuk ber-selfie semakin menjamur. Bahkan, tidak jarang hanya karena ingin mendapatkan foto yang bagus di tempat atau di momen tertentu, mereka rela pergi jauh, penuh perjuangan sampai mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Sebagian mereka juga nekat ber-selfie di tempat-tempat berbahaya yang pada akhirnya benar-benar membahayakan diri sendiri. Ada yang terjatuh dari ketinggian, ada yang tertabrak kereta, dan ada yang tertimpa bahaya lain ketika sedang asyik ber-selfie. Kebiasaan selfie ini tidak hanya dilakukan remaja, tetapi juga digandrungi anak-anak hingga orang dewasa.

Apa sih Selfie itu?

Disebutkan di beberapa sumber bahwa makna selfie adalah mengambil foto diri sendiri mengunakan kamera digital atau telepon kamera kemudian mengunggahnya ke media sosial.

Kebiasaan selfie mempunyai dampak jelek yang sangat banyak, di antaranya

Pertama: Membuat gambar makhluk bernyawa yang diharamkan dalam agama kita.

Agama kita melarang menggambar makhluk bernyawa, baik dengan tangan maupun dengan alat fotografi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللهِ

“Orang yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah mereka yang membuat penyerupaan dengan ciptaan Allah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits yang lain Rasulullah n bersabda,

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

“Sesungguhnya, orang yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah mereka yang membuat gambar (makhluk bernyawa).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

مَنْ صَوَّرَ صُورَةً فِي الدُّنْيَا كُلِّفَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ يَنْفُخَ فِيهَا الرُّوحَ وَلَيْسَ بِنَافِخٍ

“Barang siapa yang membuat gambar (makhluk bernyawa) di dunia, dia akan dibebani pada hari kiamat untuk meniupkan ruh ke dalamnya, tetapi dia tidak akan sanggup.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ يُجْعَلُ لَهُ بِكُلِّ صُورَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسٌ فَتُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ

“Setiap pembuat gambar (makhluk bernyawa) di dalam neraka. Setiap gambar yang dia buat akan diberi ruh untuk menyiksanya di Jahanam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Faedah (pelajaran) yang dapat diambil dari hadits tersebut adalah

  • Pengharaman membuat gambar dan bahwa perbuatan tersebut termasuk dosa besar.
  • Pengharaman membuat gambar dengan segala macamnya, termasuk patung dan ukiran, baik dibuat dengan tangan maupun diambil dengan kamera, apabila gambar tersebut adalah gambar makhluk bernyawa, kecuali dalam kondisi darurat (seperti foto untuk KTP atau paspor, -red.).
  • Pengharaman gambar dengan maksud apa pun, kecuali jika kondisi darurat ….” (al-Mulakhkhash fi Syarhi Kitab at-Tauhid 378)

Kedua: Mengumbar Aurat

Di antara musibah terbesar akibat selfie ialah banyaknya wanita yang memfoto dirinya dengan memperlihatkan auratnya lalu mengunggahnya ke media sosial. Foto selfie sendiri haram, ditambah foto diri dengan memperlihatkan aurat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ، رُؤُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَتُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum pernah kulihat, yaitu suatu kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi, yang mereka gunakan untuk mencambuk manusia, dan para wanita yang berpakaian, tetapi telanjang. Para wanita itu berjalan sambil berlenggak-lenggok (berjalan dengan menimbulkan fitnah). Kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak dapat mencium bau harum surga, padahal baunya tercium dari jarak demikian-demikian.” (HR. Muslim no. 5704)

Ketiga: Menimbulkan fitnah (godaan) bagi kaum pria.

Banyaknya wanita yang ber-selfie dengan menampakkan aurat berdampak jelek bagi kaum pria. Para wanita tersebut menjadi fitnah besar yang merusak para pria muslim. Rasulullah n bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Aku tidak meninggalkan pada umatku sepeninggalku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi pria daripada fitnah (godaan) wanita.” (HR. al-Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 7121)

Keempat: Tersebarnya perbuatan keji.

Selain memperlihatkan aurat, tentu para wanita tersebut berupaya untuk ber-selfie semenarik mungkin. Hal ini menjadi sebab tersebarnya berbagai perbuatan keji di tengah-tengah kaum muslimin. Akhirnya, terjadi banyak kasus pelecehan seksual, perbuatan zina, dan sebagainya.

Allah Ta’aala berfirman,

“Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (al-Isra`: 32)

Asy-Syaikh al-‘Allamah ‘Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Larangan mendekati zina lebih mengena daripada sekadar larangan berbuat zina. Sebab, larangan mendekati zina mencakup larangan dari segala sesuatu yang mengantarkan kepada zina dan yang mendekatkannya.” (Taisirul Karimir Rahman)

Kelima: Membahayakan diri sendiri.

Ketika wanita yang ber-selfie berusaha tampil sebaik, secantik, dan semenarik mungkin, hal ini justru dapat membahayakan dirinya sendiri. Selfie yang dia sebar di media sosial dilihat oleh banyak orang. Tidak tertutup kemungkinan ada orang yang memang dari awal mempunyai niat jahat, atau timbul niat jahat ketika melihat fotonya yang terlihat cantik, imut-imut, atau menarik. Bukankah tidak jarang kita mendengar berita seorang wanita dibawa kabur atau diperkosa pria yang baru dia kenal lewat media sosial? Dari mana pria itu tahu bahwa wanita tersebut cantik kalau bukan dari foto dirinya? Gara-gara fotonya sendiri, wanita tersebut menjadi target rencana jahat pria tersebut.

Keenam: Bisa terjatuh pada riya.

Sebagian orang ber-selfie ketika sedang melakukan ibadah dan amalan saleh. Ada yang ber-selfie ketika umrah, ada yang ber-selfie ketika mengadakan bakti sosial, dan lain-lain. Hal ini sangat dikhawatirkan menyebabkannya terjatuh pada riya, apalagi ketika foto dirinya di media sosial dipuji banyak orang.

Setan selalu berupaya keras agar manusia terjatuh pada perbuatan riya sehingga rusaklah amalan-amalan salehnya. Allah berfirman menceritakan Iblis,

“Iblis berkata, ‘Ya Rabbku, karena Engkau memutuskan bahwa aku tersesat, pasti aku menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua’.” (alHijr: 39)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ

“Sesungguhnya, hal yang paling kutakutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa syirik kecil itu?” Beliau menjawab, “Riya.” (HR. al-Imam Ahmad dari Mahmud bin Labib)

Ketujuh: Menimbulkan ujub atau bangga diri.

Di antara dampak buruk selfie adalah timbulnya sikap ujub. Ketika dia berusaha selfie secantik, sekeren, dan semenarik mungkin, lalu ternyata hasil jepretannya sesuai dengan apa yang dia inginkan—terlihat cantik, ganteng, menarik, atau cool—dan banyak orang yang memuji fotonya di media sosial, hal ini dikhawatirkan menimbulkan ujub. Dia merasa bangga dengan ketampanan atau kecantikan, kekayaan atau kelebihan lain yang dia lihat ada pada dirinya.

Kedelapan: Tertipu oleh penampilan lahiriah.

Mereka berpikir bahwa kelebihan sisi lahiriah mereka adalah bentuk kesempurnaan. Mereka tidak melihat sedikit pun apa yang ada di hati dan yang diamalkan. Mereka tertipu oleh lahiriah mereka dan menganggapnya segala-galanya walaupun hati dan amalan mereka rusak. Ini di antara dampak buruk selfie.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya, Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan perbuatan kalian.” (HR. Muslim no. 2564)

Kesembilan: Senantiasa mengharapkan pujian orang.

Foto selfie yang menuai pujian orang akan melahirkan jiwa-jiwa yang haus pujian. Dia akan berusaha untuk senantiasa ber-selfie sebaik-baiknya agar mendapat apresiasi atau pujian dari orang lain. Tentu hal ini adalah sebuah kejelekan.

Ini di antara dampak-dampak jelek selfie yang seharusnya dijauhi, apalagi oleh seorang muslimah. Jadi, jangan pernah berucap, “Ini selfie-ku. Mana selfie-mu?”

Sumber: Majalah Qanitah


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s